Pengunjung
Kami memiliki 357 Tamu online
Bunga KUR Berpeluang Turun Lagi
JAKARTA--MI: Suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) berpeluang turun kembali, tetapi hal itu sangat tergantung kondisi keuangan makro di Indonesia.
"Kita lihat ekonomi makro kita bagaimana tahun ini. Kalau semakin membaik, pasti akan kita turunkan juga bunganya. Tetapi kan ekonomi makro tidak bisa hanya dievaluasi dalam satu bulan, biasanya dievaluasi enam bulan sekali. Jadi enam bulan mendatang kita baru putuskan. Bisa diturunkan lagi atau tidak suku bunga KUR ini," kata Menteri Koperasi dan UKM Syariefuddin Hasan, saat kunjungan kerjanya di Yogyakarta.Syarief mengakui, penerapan suku bunga KUR di Singapura yang berkisar 4%-5% memang menjadi cita-cita bersama. Tetapi melihat kondisi makro Indonesia saat ini hal itu sulit diwujudkan. "Sekarang ini SBI saja 6,5%, belum lagi faktor biaya bank yang masih relatif tinggi. Jadi untuk saat ini belum bisa menerapkan suku bunga KUR seperti Singapura," jelasnya.
Meski begitu Syarief bertekad merealisasikan target penyaluran KUR sebesar Rp20 triliun dengan suku bunga 14% tahun ini. Diakuinya kendala terbesar untuk merealisasikan target itu adalah masalah sosialisasi. Faktor sosialisasi dinilai penting, agar semua pihak seperti perbankan dan masyarakat memiliki pemahaman yang sama. "Hanya dengan pemahaman yang sama kita bisa mencapai target yang kita canangkan," jelasnya.
Dengan sosialisasi yang baik diharapkan semangat masyarakat mengakses KUR semakin tinggi. Sehingga peluang terciptanya lapangan kerja baru semakin besar.
Di sisi lain, meski belum bisa menerapkan suku bunga KUR seperti di Singapura, Syarief berharap pertumbuhan jumlah wirausahawan di Tanah Air terus bertambah. Gerakan mencetak wirausaha baru di mulai dari kalangan mahasiswa atau sarjana, yang dinilai memiliki daya juang yang tinggi untuk mengatasi tantangan di dunia usaha.
"Dengan semakin banyaknya wirausaha, semakin banyak pula lapangan kerja terbuka. Hal ini bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional, yang pada akhirnya bisa mempengaruhi kondisi ekonomi makro ke arah yang positif," jelas Syarief.
Syarief mencatat pada 2007 pengangguran Indonesia sekitar 7,8%, pada 2009 tercatat 9,9%. Dengan program pencetakan wirausaha baru dari kalangan sarjana, menurut dia, dapat menekan angka pengangguran pada 2014 menjadi hanya 5%.
Idealnya jumlah wirausaha di sebuah negara adalah 2% dari populasi penduduk. Dengan jumlah penduduk 30 juta jiwa, jelas Syarief, seharusnya saat ini Indonesia memiliki sekitar 4,6 juta pengusaha. "Tetapi nyatanya saat ini kita baru memiliki sekitar 500 ribu pengusaha," ujarnya. (Sad/OL-02)
Sumber : www.mediaindonesia.com



