BRI Tetap Mampu Laksanakan Program KUR
JAKARTA : Bank Rakyat Indonesia (BRI) berkemampuan melaksanakan program kredit usaha rakyat (KUR) sekalipun tanpa adanya penjaminan dari pemerintah.
Dirut BRI Sofyan Basir menyatakan, pihaknya akan memperhitungkan risiko pelaksanaan KUR tanpa program penjaminan tersebut. "Saya yakin BRI mampu melaksanakan program KUR tanpa penjaminan dari pemerintah. Kita akan hitung risikonya," kata Sofyan usai menutup press gathering di Anyer Banten, Minggu (21/6).
Menurut Sofyan, KUR bukanlah hal baru di BRI. Selama ini pihaknya sudah melakukan penyaluran kredit ke berbagai sektor usaha mikro karena harus diakui bahwa hal itu merupakan bidang yang sudah ditangani oleh BRI. KUR, tambahnya, merupakan program yang tepat untuk rakyat kecil karena tidak ada lembaga keuangan yang menyalurkan kredit pada nilai tersebut tanpa penjaminan.
Sofyan mengakui, selama ini, kredit dengan nilai di bawah Rp 5 juta lebih sudah digarap oleh para tengkulak, yang notabene merugikan petani.
Kredit mikro seperti KUR tersebut, kata dia, juga terbilang kecil tingkat kemacetannya. Tingkat macet KUR dengan asumsi kondisi terburuk sekitar 10 persen. Ia memberi contoh, jika misalnya kredit KUR yang disalurkan sebesar Rp 10 triliun maka sekitar Rp 1,5 triliunnya dalam kondisi bermasalah.
Karena itu, "Tidak adil jika karena 10 persen kredit KUR bermasalah kemudian program tersebut tidak dilanjutkan," ujarnya. Kredit itu, kata Sofyan juga mendorong kemandirian ekonomi, karena pengusaha mikro akan terbantu menjalankan usaha mereka tanpa tergantung pada tengkulak.
Mengenai penyaluran KUR yang paling berisiko, kata Sofyan adalah penyaluran kepada petani sayur-mayur disebabkan umur komoditas tersebut yang tidak tahan lama.
"Sayuran punya risiko tertinggi, misal cabe dan bawang cuma tahan seminggu. Petani ini memang harus ada sesuatu jalan keluar kalau pasar lokal hancur, mereka tak ingin barang tak laku sehingga solusinya sebenarnya dengan KUR," jelas dia.
Sementara mengenai penyaluran kredit BRI, menurut selama Mei 2009 saja cukup spektakuler karena mencapai hampir Rp 5 triliun. "Sangat besar dan mengagetkan juga. Selama bulan Mei, untuk satu bulan saja mencapai sekitar Rp 4,8 triliun atau hampir Rp5 triliun," katanya. Dalam penyaluran kredit itu BRI, ujar Sofyan tetap fokus pada sektor UMKM dalam penyaluran kreditnya. Sektor lain yang juga tinggi. (Indra)
Sumber : www.suarakarya-online.com












