Sumbar Didukung Jadi Sentra Benih Ikan
PADANG--MI: Kementerian Kelautan dan Perikanan mendukung Sumatera Barat (Sumbar) menjadi daerah sentra benih ikan, terutama bandeng --umpan tuna-- dan ikan kerapu.
"Sumbar harus bisa menjadi sentra benih ikan, terutama bandeng dan kerapu sehingga pengadaan umpan tuna bisa terpenuhi ke depan," kata Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad ketika meninjau Balai Benih Ikan Pantai (BBIP) di Pesisir Selatan, Kamis (4/3).
Menteri Kelautan dan Perikanan kunjungan kerja ke Sumbar selama dua hari sejak Rabu (3/3) dengan sejumlah agenda peninjauan dan peresmian. Mantan gubernur Gorontalo itu menyatakan akan membatu benih bandeng secara gratis kepada kelompok budidaya yang telah mengembangkan umpan tuna itu.
Selain itu, kementerian akan mendatangkan induk tuna berkualitas ke Sumbar untuk dikawinkan pada balai bebih yang ada sehingga ketersedian benih ikan bernilai ekspor itu memadai.
Menurut menteri, mengembangkan benih tuna tidak sulit karena sekali kawin akan bisa menghasilkan benih mencapai seribuan ekor. Budidaya ikan kerapu di perairan Pesisir Selatan sudah berlangsung sejak 2007, tentu ke depan perlu ditingkatkan produksinya.
Karenanya, kata Fadel, ketersedian benih dibutuhkan sehingga kelompok nelayan tidak kesulitan mendapatkan dan bisa menekan harga beli benih.
Berkurangnya biaya beli benih, jelas akan memberi dampak terhadap peningkatan kelompok nelayan di pantai Sumbar. "Pasar ekspor kerapu cukup terbuka dan harga jualnya cukup baik," ujarnya.
Menteri Kelautan dan Perikanan dalam kunjungan ke Sumbar, juga melakukan kunjungan ke Balai Benih Ikan Pantai (BBIP) di Sungai Nipah, Pesisir Selatan.
Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sumbar, Yosmeri mengatakan, dukungan kementerian itu merupakan dambaan dalam pengembangan perikanan budidaya dan tangkap.
Selama ini, katanya, dukungan kementerian itu sudah ada dan rencana menteri untuk mendatangkan induk kerapu untuk dikawinkan di BBIP tentu sangat dinantikan, begitu bantuan benih bandeng.
Yosmeri menjelaskan, Sumbar sudah memiliki BBIP pengembangan benih kerapu sejak 2001 di Teluk Buo pada areal 1,4 hektare.
Untuk mendukung itu dikembangkan lagi BBIP, khusus ikan kerapu di atas lahan seluas 1,8 hektare yang dibebaskan Pemkab Pesisir Selatan dan pembangunan fisiknya dari bantuan APBD provinsi dan dana pusat.
Ia menjelaskan, daerah lokasi pengembangan budidaya kerapu di antaranya kawasan Mandeh Pesisir Selatan seluas 55 hektare, Teluk Sungai Bungin 18 hektare dan sungai Nipah 16 hektare.
Sementara itu, di Kota Padang terdapat di Bungus Teluk Kabung, dan di Pasaman Barat di Kecamatan Sungai Beremas dengan potensi lahan 150 hektare.
Selanjutnya, Yosmeri, di Kepulauan Mentawai seluas 10.565 hektare tersebar pada sembilan kecamatan pada daerah 110 mil laut dari pantai Padang itu.
"Pengembangan budidaya kerapu sudah diusahakan nelayan sejak 2007 dan telah dilakukan ekspor melalui jalur laut. Selama ini, ekspornya pengusaha hongkong langsung datang ke lokasi kerampa ambung kerapu nelayan," katanya. (Ant/OL-7)
Sumber : www.mediaindonesia.com
"Sumbar harus bisa menjadi sentra benih ikan, terutama bandeng dan kerapu sehingga pengadaan umpan tuna bisa terpenuhi ke depan," kata Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad ketika meninjau Balai Benih Ikan Pantai (BBIP) di Pesisir Selatan, Kamis (4/3).
Menteri Kelautan dan Perikanan kunjungan kerja ke Sumbar selama dua hari sejak Rabu (3/3) dengan sejumlah agenda peninjauan dan peresmian. Mantan gubernur Gorontalo itu menyatakan akan membatu benih bandeng secara gratis kepada kelompok budidaya yang telah mengembangkan umpan tuna itu.
Selain itu, kementerian akan mendatangkan induk tuna berkualitas ke Sumbar untuk dikawinkan pada balai bebih yang ada sehingga ketersedian benih ikan bernilai ekspor itu memadai.
Menurut menteri, mengembangkan benih tuna tidak sulit karena sekali kawin akan bisa menghasilkan benih mencapai seribuan ekor. Budidaya ikan kerapu di perairan Pesisir Selatan sudah berlangsung sejak 2007, tentu ke depan perlu ditingkatkan produksinya.
Karenanya, kata Fadel, ketersedian benih dibutuhkan sehingga kelompok nelayan tidak kesulitan mendapatkan dan bisa menekan harga beli benih.
Berkurangnya biaya beli benih, jelas akan memberi dampak terhadap peningkatan kelompok nelayan di pantai Sumbar. "Pasar ekspor kerapu cukup terbuka dan harga jualnya cukup baik," ujarnya.
Menteri Kelautan dan Perikanan dalam kunjungan ke Sumbar, juga melakukan kunjungan ke Balai Benih Ikan Pantai (BBIP) di Sungai Nipah, Pesisir Selatan.
Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sumbar, Yosmeri mengatakan, dukungan kementerian itu merupakan dambaan dalam pengembangan perikanan budidaya dan tangkap.
Selama ini, katanya, dukungan kementerian itu sudah ada dan rencana menteri untuk mendatangkan induk kerapu untuk dikawinkan di BBIP tentu sangat dinantikan, begitu bantuan benih bandeng.
Yosmeri menjelaskan, Sumbar sudah memiliki BBIP pengembangan benih kerapu sejak 2001 di Teluk Buo pada areal 1,4 hektare.
Untuk mendukung itu dikembangkan lagi BBIP, khusus ikan kerapu di atas lahan seluas 1,8 hektare yang dibebaskan Pemkab Pesisir Selatan dan pembangunan fisiknya dari bantuan APBD provinsi dan dana pusat.
Ia menjelaskan, daerah lokasi pengembangan budidaya kerapu di antaranya kawasan Mandeh Pesisir Selatan seluas 55 hektare, Teluk Sungai Bungin 18 hektare dan sungai Nipah 16 hektare.
Sementara itu, di Kota Padang terdapat di Bungus Teluk Kabung, dan di Pasaman Barat di Kecamatan Sungai Beremas dengan potensi lahan 150 hektare.
Selanjutnya, Yosmeri, di Kepulauan Mentawai seluas 10.565 hektare tersebar pada sembilan kecamatan pada daerah 110 mil laut dari pantai Padang itu.
"Pengembangan budidaya kerapu sudah diusahakan nelayan sejak 2007 dan telah dilakukan ekspor melalui jalur laut. Selama ini, ekspornya pengusaha hongkong langsung datang ke lokasi kerampa ambung kerapu nelayan," katanya. (Ant/OL-7)
Sumber : www.mediaindonesia.com












