Petani Jeruk Purworejo Mencoba Bangkit
DEKADE sebelum 1980-an, Kabupaten Purworejo dikenal sebagai salah satu sentra jeruk di Indonesia. Bahkan jeruk Purworejo sempat mewarnai perdagangan internasional, dengan keberhasilan para pengusaha mengekspor jeruk ke berbagai negara. Dari daerah ini pula, bibit tanaman jeruk banyak dipesan oleh berbagai daerah di luar Jawa.
SEIRING mewabahnya virus Citrus vein Phloem Degeneration (CVPD), kejayaan jeruk Purworejo terus merosot. Puncaknya tahun 1990-an, para petani jeruk benar-benar terpuruk. Padahal sebelumnya produk buah dari Purworejo ini tidak pernah surut. Namun saat ini jeruk Mandarin justru mulai membanjiri Purworejo. Semangat petani di daerah-daerah sentra jeruk Kabupaten Purworejo, seperti Kecamatan Bayan, Gebang dan sebagian Banyuurip, untuk bangkit dari keterpurukan tampaknya tak pernah surut. Mereka mencoba dan selalu mencoba, meski baru panen satu atau dua kali, tanaman jeruk mati karena terserang virus.
"Jika daunnya sudah menguning dan layu bukan karena tua, tanaman jeruk sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Lahannya juga tidak berani lagi ditanami jeruk, sehingga harus dialihkan untuk tanaman padi atau tanaman lainnya," ujar Jaiman (38), petani jeruk warga Kelurahan Lugosobo Kecamatan Gebang, saat ditemui di kebun jeruknya, Sabtu (20/2).
Menurut Jaiman, sekarang petani jeruk sudah bangkit kembali. Hektaran lahan sawah di Kecamatan Gebang sudah banyak tumbuh tanaman jeruk. Bahkan sebagian besar sudah mulai berbuah. "Sekitar bulan Juli hingga Agustus nanti diperkirakan sudah banyak kebun jeruk yang panen," kata Ahmad (60), petani jeruk warga Sucen Ngrawen Kelurahan Sucen, Kecamatan Bayan.
Menurut Jaiman dan Ahmad, berkebun jeruk sekarang ini seperti permainan risiko dan untung-untungan. Akibatnya banyak petani jeruk yang selama ini terlilit kontrak dengan pedagang. "Satu batang pohon jeruk yang baru mulai berbuah, bisa dikontrak antara Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu, untuk jangka waktu empat tahun. Sedangkan tanaman yang menjelang panen kedua, dikontrak antara Rp 160 ribu hingga Rp 200 ribu per pohon. Tergantung kondisi tanaman," jelasĀ Jaiman.
Biasanya, lanjut Jaiman, kontrak dilakukan saat tanaman jeruk sudah mulai berbunga atau menjelang berbunga. Setelah melihat tanamannya bagus, para pedagang baru mulai 'melamar'. Diakui, pada tahun 2000, saat harga jeruk Rp 5.000 per kilogram, dari sekitar 100 pohon jeruk yang baru panen pertama bisa diperoleh penghasilan sekitar Rp 4,5 juta sekali panen. Dari hasil itu, modal sudah kembali. Sedangkan pada panen kedua, petani jeruk bisa mendapatkan Rp 7 juta. "Tanaman jeruk juga tergantung perawatan dan ketersediaan air. Jika ada irigasi teknis, musim panen bisa diatur," ujar Ahmad yang pernah berjaya pada tahun 1988-1989, dengan penghasilan Rp 6 juta sampai Rp 20 juta per panen.
Bersaing
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Purworejo melalui Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Ir Eko Anang mengatakan, pihaknya kini terus memacu petani bangkit dan bersaing dengan jeruk impor. "Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tahun 2008 telah memberi bantuan bibit tanaman jeruk sebanyak 8.000 batang. Tahun 2010 ini kami usulkan 15 ribu batang untuk jenis siem dan keprok," jelas Anang.
Dikatakan Anang, populasi tanaman jeruk di Purworejo saat ini mencapai sekitar 63.752 batang yang ditanam di lahan seluas kurang lebih 250 hektar. Dari luas lahan itu, 137 hektar di antaranya merupakan tanaman sudah berproduksi. Lahan panenan jeruk saat ini juga tidak hanya tersentra di Kecamatan Bayan, Gebang dan sebagian Banyuurip, tetapi telah menyebar di Kecamatan Kemiri (sekitar 25.000 batang), Bagelen (23.650 batang), Purwodadi (3.200 batang), serta Kecamatan Bener dan Bruno masing-masing 2.500 batang.
(Gunarwan)-m
Sumber : www.kr.co.id




