INDUSTRI KUDAPAN KEBAL KRISIS GLOBAL
Dibanding industri kreatif lainnya, industri makanan dan minuman (kudapan) berpeluang sangat besar untuk terus bertumbuh. Bahkan di saat krisis sekalipun, industri ini terbilang mampu bertahan.
Pasar produk makanan dan minuman ini sangat luas. Sementara jenis produk makanan juga beragam. Baik produk makanan kemasan seperti aneka snack dan minuman ringan, serta makanan olahan yang menjurus ke tata boga. Kenaikan harga bahan baku, belum stabilnya nilai tukar mata uang, maraknya impor produk makanan minuman legal serta turunnya daya beli masyarakat membuat industri ini sempat terpuruk. Terutama untuk pelaku industri kelas menengah dan mikro.
Imbasnya, ekspor produk makanan dan minuman Februari 2009 turun 40 persen dibanding ekspor bulan Desember 2008 silam. Sementara total nilai ekspor makanan dan minuman tahun 2008 sebesar 2 juta dolar AS. Namun, pengamat industri seperti Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) tetap optimis memandang masa depan industri ini. Apindo memprediksi industri ini bisa bertumbuh sampai 5 persen dibanding tahun lalu. Tahun 2008 lalu, total omzet industri ini hampir mencapai Rp400 triliun.
Nada optimis serupa juga dilontarkan Franky Sibarani, Ketua Bidang Regulasi Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi). "Sampai akhir tahun 2009, pertumbuhan 5 persen sampai 6 persen masih bisa tercapai tergantung sejauh mana pemulihan krisis oleh pemerintah," ujarnya.
Franky Sibarani mengatakan, kuartal pertama 2009, industri makanan dan minuman, terutama produk olahan, tertolong oleh kebijakan pemerintah untuk menekan beredarnya produk makanan dan minuman ilegal. "Saat itu, walau permintaan ekspor turun tetapi permintaan dalam negeri stabil," ujarnya.
Pada kuartal kedua tahun ini, Franky yakin keadaan daya beli masyarakat, terutama masyarakat di luar pulau Jawa yang menggantungkan hidupnya di sektor perkebunan semakin membaik. Sehingga mampu menyerap produk makanan dan minuman yang ada. Selain itu, Franky Sibarani mencatat lonjakan jumlah pelaku usaha makanan dan minuman kelas menengah naik secara signifikan. "Terutama dalam usaha waralaba makanan," ujarnya.
Hal ini menurutnya, dipicu maraknya PHK di beberapa perusahaan. Selain itu, kondisi umum di mall-mall juga mendukung. Lantaran saat ini, sekitar 20 persen sampai 40 persen alokasi lahan di mall kebanyakan untuk industri F&B (food and bevarage). Ini menggembirakan di satu sisi. Namun di sisi lain, Sekretaris Umum Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Stevan Lie khawatir dengan melonjaknya jumlah pelaku bisnis 'franchise' makanan ini.
Pasalnya, lanjut Stevan Lie, jumlah yang berlebihan bisa menimbulkan persaingan kurang sehat.''Sehingga untuk eksis di industri ini memerlukan kreativitas dan ketelatenan menciptakan menu atau konsep restoran, kafe atau waralaba yang menarik dari yang lain," ujarnya.
Untuk itulah Apkrindo mengusahakan standar mutu restoran dan kafe seperti yang ada di Singapura. "Jadi nantinya masyarakat memilih dan pelaku industri bisa terpacu kreativitasnya untuk meningkatkan grade restoran atau kafenya," lanjutnya.
Sementara pemilik PT Magfood Inovasi Pangan, Yanty Isa melihat adanya peluang pasar yang terbuka di saat krisis. tergantung dari sisi mana perusahaan makanan minuman menyikapinya."Ada banyak strategi menghadapi krisis. Misal dengan branding produk, variasi kemasan produk, variasi bahan baku produk serta variasi rasa produk," ujarnya.
Yanty mengajak pemain industri ini untuk tidak bersaing secara harga. Melainkan melalui inovasi produk. "Menurunkan harga atau mengalihkan segmen pasar hanya akan menghancurkan merek yang sudah dibangun," tutur Yanti Isa.*isk-ktn
Sumber : batakpos-online.com




