Kata limbah biasanya berasosiasi sesuatu yang sudah tidak berguna lagi, bahkan menjijikkan, kumuh. Namun, tidak demikian dengan yang satu ini. Limbah koran, atau koran bekas, setelah disentuh tangan-tangan terampil, ternyata bisa menjadi hasil karya yang bernilai seni tinggi.

Bagi Siti Aminah SKom, 38, warga RT 03/RW IX Kelurahan Kadipiro, Banjarsari, Solo ini, limbah koran bisa disulap menjadi aneka macam tas, tempat handphone, guci, kap lampu, keranjang, pot, juga perabot rumah tangga seperti meja, dsb.

Menurut Siti, ide ini awalnya sederhana. Ketika dia sedang memegang sobekan kertas koran dan melinting-lintingnya, kebetulan melihat orang membawa rotan yang dijadikan perabot rumah tangga. Di benaknya langsung terpikirkan bahwa koran ini pun bisa dibuat seperti rotan.

Benarlah... Setelah lintingan-lintingan itu dianyam, memang bisa dibuat menjadi berbagai macam bentuk. ”Awalnya saya bikin tas tempel. Pewarnaannya pun dari teres, finishing pakai pernis. Tapi itu dulu. Sekarang yang seperti itu tak laku dijual,” tuturnya.

Ketika awak koran ini mengunjungi kediaman Siti yang lulusan sarjana komputer tapi menggeluti kerajinan ini, tampak seorang pengrajin sedang menganyam lintingan-lintingan koran. Miah Solihah, 45, dengan telatinnya membuat tas dari limbah koran itu. Miah salah satu pengrajin yang masih kerabat Siti. Pengrajin lainnya tersebar di wilayah Kelurahan Kadipiro. Bahkan ada anggota kelompoknya dari luar Kadipiro, yakni dari Pucangsawit dan Jajar.

Banyak pesanan

Oleh karena itu, kini, Siti telah membentuk kelompok usaha yang aggotanya lebih dari 40 orang. Semua kaum ibu. Oleh Lurah Kadipiro Hendro Pramono, kompleks ini dinyatakan sentra kerajinan limbah koran. Masing-masing anggota juga mempunyai anak asuh, sehingga sentra ini mempunyai jaringan yang luas.

Dikisahkan, ide ini muncul pada 2007. Kemudian dia mencari literatur dari buku, majalah, internet, dsb, hingga diketahui sifat-sifat kertas koran. Dari situlah kemudian dia menggelutinya. Awalnya sendirian, pemasarannya pun terbatas. Kini pengrajinnya banyak, tapi kewalahan karena banyaknya pesanan.

Dia mengaku sangat tertolong dengan bantuan Disperindag karena diikutsertakan menjual hasil karyanya di Ngarsopuran. Dari situlah kemudian banyak yang memesannya. Banyak pula yang minta diajari. Sehingga, Siti tidak hanya mengajari warga Kadipiro, tapi juga ibu-ibu PKK berbagai kelurahan.

Hasil karya kelompok usahanya telah mendapat sorotan. Bahkan petugas Disperindag pernah ada yang mengkritik. ”Kalau menggunakan bahan pewarna melamin, buang saja, karena tak akan laku diekspor,” katanya menirukan ucapan petugas.

Memang, diakuinya, pewarna yang menggunakan melamin, hasilnya lebih bagus, warna lebih kuat, tajam. Tapi tak laku. Akhirnya sekarang menggunakan bahan alami. Untuk warna kekuningan dibuat dari kulit manggis, warna merah dari daun jati, cokelat dari tingi dan kulit pohon mahoni. ”Kalau bahan-bahan ini habis, kadang terpaksa menggunakan pewarna tekstil.”

Untuk yang dari bahan alami, warna cenderung dof. Sedangkan yang menggunakan pewarna tekstil cenderung ngejreng. ”Yang pasti tidak lagi menggunakan melamin.”

Urutan pembuatan: 1. Koran diguntingi. 2. Dilinting. 3. Dianyam. 4. Finishing. 5. Dipasarkan. Untuk pemasaran, selain di Soloraya juga Semarang, Yogyakarta, Jakarta, Denpasar Bali, dan hampir semua kota-kota besar di Indonesia. Sedangkan ke luar negeri antara lain ke Maroko, dan bulan ini akan ke Prancis. Sekali kirim sekitar 500 produk. - Oleh : Pardoyo, Litbang SOLOPOS

Sumber : www.edisicetak.solopos.co.id

..:: KEMBALI ::..