Sentra Produksi Sepatu Osowilangun Yang Kian Meredup
Osowilangun saat ini lebih dikenal sebagai kawasan penghasil garam. Namun, ada potensi lain yang mungkin belum diketahui banyak orang. Ada salah satu kampung yang dikenal sebagai kampung sepatu.
BICARA soal sentra sepatu, biasanya orang langsung teringat akan Tanggulangin dan Mojokerto. Padahal, ada sentra produksi lain yang sebenarnya tidak kalah terkenal, yakni Osowilangun. Produk perajin alas kaki di kawasan Surabaya Barat itu bahkan pernah tersebar ke sejumlah negara. Misalnya, Dubai dan Panama.
Kampung sepatu Osowilangun punya teritori yang cukup luas. Perajin tersebar di tiga rukun warga (RW). ''Sebagian besar warga yang tidak punya tambak bekerja sebagai perajin sepatu,'' kata Elfi Laili, staf Kelurahan Romokalisari yang juga mantan perajin sepatu Osowilangun.
Banyak perajin yang sukses karena pesanan dari negara lain. Karena usaha itu menjanjikan, jumlah perajin di sana sampai sekitar 200 orang. Mereka mempunyai banyak karyawan. Seorang perajin mempekerjakan 15 hingga 20 orang pegawai. Dengan kondisi begitu, bisa dibayangkan, berapa banyak tenaga kerja yang terserap.
Jumlah produksinya pun melimpah. Karena banyak pesanan, baik dari pasar domestik maupun luar negeri, dalam satu hari, kampung sepatu Osowilangun bisa menghasilkan 15 kodi atau 300 pasang sepatu.
Tapi, itu dulu. Ekspor, produksi melimpah, dan menyerap banyak tenaga kerja itu terjadi pada 1970-1990. Saat ini, kondisinya sudah jauh menurun. Bahkan, bisa dibilang memprihatinkan.
Jangankan ekspor, mendapatkan pesanan dari pasar domestik saja susahnya bukan main. Beberapa perajin pun gulung tikar. ''Banyak yang masih bertahan menjadi perajin sepatu. Tapi, yo ngono, wis kembang kempis,'' ucapnya.
Elfi termasuk yang mengalami gulung tikar. Usahanya macet karena minimnya pesanan. Tapi, dia masih beruntung. Sebab, meski tidak lagi berbisnis alas kaki tersebut, dapur Elfi tetap mengepul karena bekerja di kantor kelurahan.
H Muhammad, salah seorang perajin yang masih bertahan, mengatakan bahwa saat ini, kapasitas produksi perajin sepatu di Osowilangun rata-rata 10 kodi per minggu. Produktivitas tersebut terus anjok dari tahun ke tahun.
Penyebabnya kompleks. Pertama, perajin tidak berani lagi berproduksi dalam jumlah besar karena minimnya order. Kini mereka hanya menunggu pesanan dari tengkulak. Kalau tidak ada pesanan, ya tidak ada yang membuat sepatu.
Muhammad mengatakan, meredupnya sentra produksi sepatu Osowilangun mulai terasa sejak krisis moneter pada 1997. Setelah itu, perajin harus berhadapan dengan pasar bebas. Banyak produk asing dengan harga murah yang masuk ke Indonesia. Salah satunya, produk dari Tiongkok.
Selain itu, banyak industri besar yang juga mulai memproduksi sepatu, Harga tidak jauh berbeda dengan buatan perajin. Itu belum termasuk masalah pemasaran yang pelik.
Elfi mencontohkan kasus ketika perajin menawarkan dagangannya kepada sejumlah pedagang di pertokoan atau pusat grosir di Surabaya. ''Setelah itu, pengusaha toko atau grosir mencari perajin lain di luar Osowilangun untuk membuatkan sepatu dengan kualitas sama, tapi harga lebih murah,'' ucapnya.
Berbagai kondisi itulah yang membuat perajin semakin terpuruk. Sepatu made in Osowilangun susah bersaing, bahkan sering ditolak oleh pedagang lokal. (gun/fid)
Sumber : www.jawapos.com













