AEKI Jateng Buat Kebun Percontohan
TEMANGGUNG -- Untuk meningkatkan kualitas serta produktivitas kopi di Kabupaten Temanggung, Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jawa Tengah berencana membuka kebun percontohan. Panen kopi di daerah ini acapkali dilakukan petik muda, sehingga menurunkan kualitas hasil panen. Padahal Temanggung memiliki sentra kopi berkualitas terbaik di Jawa Tengah, yaitu Desa Gesing, Kecamatan Kandangan.
Hal itu dikemukakan Imam Sardjo, Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia (Apeki) Temanggung pada sejumlah wartawan. ''Kebun percontohan akan memanfaatkan kebun petani, rencananya di tiga tempat masing-masing satu hektare,'' kata Imam.Sentra-sentra kopi di Kabupaten Temanggung saat ini meliputi Kecamatan Kledung, Gemawang, Jumo, Kandangan, Candiroto dan Bejen. Adanya kebun percontohan ini, kedepan, secara umum kopi Temanggung memiliki kualitas lebih bagus dengan tingkat produksi lebih tinggi.
Imam mengatakan, setahun terakhir ini, produksi kopi di daerahnya merosot drastis. Tahun 2008 mencapai 6.500 ton, namun tahun 2009 lalu hanya sekitar 4.500 ton. ''Selain karena pengaruh musim, sebagian besar petani tidak melakukan pempukan, karena sulitnya memperoleh pupuk,'' katanya.
Melihat produksi kopi yang cenderung menurun, tambah Imam Sardjo, AEKI membuka percontohan. Di kebun percontohan tersebut, nanti AEKI akan memberi contoh bagaimana cara meningkatkan produktivitas kopi dengan efektif serta cara-cara pemeliharan kebun yang benar. AEKI juga akan membantu pupuk bagi kebun percontohan.
Menurut Imam, AEKI juga berjanji akan membeli kopi hasil panenan tahun ini dengan harga lebih tinggi dari harga pasar sebesar Rp 500 hingga Rp 600 perkilonya. Oleh karena itu petani diminta untuk menjaga kualitas hasil petikannya. Petani diminta tidak melakukan petik muda.
''Yang dibeli AEKI adalah kopi gelondong merah basah, untuk dijadikan olahan basah. Kopi Temanggung umumnya memenuhi standar ekspor, sebenarnya petani bisa melakukan sendiri, tetapi tidak memiliki peralatannya,'' katanya.
Juri Karyono, petani asal Gemawang mengatakan, petani melakukan petik muda karena dikejar kebutuhan. ''Selain dikejar kebutuhan, bila harga kopi membaik, pencurian buah kopi biasanya akan marak. Sehingga kami harus berlomba dengan pencuri,'' katanya.
Untuk menekan kecenderungan petani kopi melakukan petik muda, tambah Juri, salah satunya adalah Pemkab memfasilitasi memberikan bantuan uang tunggu. Bila panen berlangsung, petani wajib mengembalikan dengan bunga ringan. ''Bisa saja pinjaman uang tunggu tadi melalui Bank Pasar atau BPD, namun tentunya harus difasilitasi Pemerintah daerah,'' harap Juri dan beberapa petani di Gemawang. m as'adi
Sumber : www.republika.co.id












