BANDUNG, — Dua kawasan industri kecil menengah di Bandung, yakni sentra rajut Binongjati dan sentra kaus Suci, terancam tersisih akibat penerapan Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China (ACFTA). Kian maraknya barang-barang sejenis asal China yang jauh lebih murah diyakini membuat produk lokal tidak lagi dilirik pasar. Kondisi ini lambat laun akan menyebabkan pengusaha lokal bangkrut.

Ketua Asosiasi Perajin Sentra Kaus Suci Marnawie Munamah di Bandung, Selasa (26/1/2010), mengatakan, sebagian perajin kaus di kawasan Suci sebenarnya siap bersaing dengan produk China di bidang perdagangan tekstil. Pemberlakuan perdagangan bebas lebih mengancam perajin dengan modal kecil.

"Pasar bagi produsen lokal jelas akan menyempit. Pengusaha dengan modal cukup memang bisa bertahan. Namun, perajin dengan modal kecil dan yang hanya mengontrak di kawasan ini sudah pasti terancam bangkrut," ujarnya.

Saat ini, di sentra kaus Jalan Suci (PHH Mustopha) terdapat 400 perajin yang biasa memproduksi kaus, spanduk, topi, hingga jaket. Dari 400 perajin tersebut, menurut Marnawie, hanya 150 perajin yang memiliki bangunan tetap serta modal yang cukup, sementara lainnya mengontrak.

Menurut Marnawie, pemberlakuan ACFTA akan membuat produk garmen asal China lebih murah, termasuk bahan bakunya. Ini akan menyebabkan masyarakat kemungkinan lebih memilih produk pakaian jadi dari China daripada memesan ke sentra kaus di Suci.

"Jika tidak ada pesanan, apa yang akan dikerjakan perajin lokal? Pemerintah harus segera mengantisipasinya," ujarnya.

Kondisi yang sama dikeluhkan para perajin di sentra rajut Binongjati, Bandung. Memasuki tahun 2010, pemesanan dari grosir pakaian di Tanah Abang mulai berkurang. Sukendar (40), salah seorang perajin rajut Binongjati, menuturkan, pada kondisi normal, pesanan dari Pasar Tanah Abang mencapai 200 lusin per hari.
Mulai pekan ini hanya masuk pesanan 150 lusin. Dari informasi para pedagang di Tanah Abang, grosir pakaian di Jakarta mulai membandingkan produk rajutan lokal dengan produk China yang harganya sedikit lebih murah, ujarnya.

Kondisi serupa dikatakan Zubaidah (36), perajin lain di Binongjati. Jika biasanya dia dan lima karyawannya mengerjakan 150 lusin pakaian untuk dikirim ke Tanah Abang, saat ini pesanannya mulai menurun, tinggal 70 lusin per hari.

Penguatan permodalan

Ketua Asosiasi Industri Rajutan Binongjati Suhaya Wondo memaparkan, penerapan ACFTA jelas semakin mendesak produk tekstil dari Binongjati yang masih miskin variasi. Apalagi, produk China saat ini diduga menguasai 60 persen perdagangan di pasar tekstil Tanah Abang.

Saat ini, rata-rata harga produk rajutan Binongjati Rp 120.000-Rp 150.000 per lusin. Sementara produk garmen sejenis asal China bisa mencapai Rp 100.000 per lusin.

Sekitar 350 perajin di Binongjati terancam menganggur jika kondisi ini tidak diantisipasi pemerintah. "Sejak pekan ini, pesanan rajutan yang biasanya 2.000 lusin per hari sudah turun tinggal 1.500 lusin, dan trennya kami perkirakan semakin turun," ungkapnya.

Wondo juga meminta pemerintah membuat kebijakan yang berpihak kepada pengusaha lokal. Salah satunya, para perajin dapat diberi kemudahan terhadap akses perbankan untuk penguatan di bidang permodalan.

"Kami berharap suku bunga kredit bisa di bawah 10 persen. Dengan penguatan modal, perajin bisa menambah investasi untuk alat dan mengikuti pelatihan desain. Dengan demikian, model rajutan bisa lebih bervariasi dan harga lebih murah," ujarnya.

Sumber : www.kompas.com

..:: KEMBALI ::..