Klaster Industri Kreatif Masih Minim
SOLO : Pengembangan industri kreatif di Indonesia masih terkendala minimnya daerah yang dapat dijadikan klaster industri kreatif. Sejauh ini, jumlah daerah yang dinilai berhasil menumbuhkan industri kreatif ternyata masih dapat dihitung dengan jari.
Menteri Perdagangan (Mendag) Mari Elka Pangestu mengatakan, sejak pertama kali diluncurkan program industri kreatif beberapa tahun lalu, hingga sekarang ini belum ada evaluasi mengenai seperti apa pertumbuhannya. Bulan depan akan kita umumkan seperti apa pertumbuhan kita, ungkapnya di sela-sela rangkaian kegiatan 5th Indonesia Performing Art Mart (IPAM) di Sahid Jaya Hotel, Solo,kemarin.
Kendati demikian, lanjut dia, sejumlah sektor industri kreatif telah menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan,di antaranya adalah industri perfilman dan musik.Kita tahu sekarang ini bagaimana industri film kita. Demikian juga dengan musik, banyak sekali ringtone-ringtoneyang itu memiliki nilai ekonomi besar,paparnya. Ia mengaku,pengembangan industri kreatif ini dilakukan berdasarkan klaster-klaster daerah industri kreatif, seperti Bandung, Solo,Yogyakarta, dan Bali.
Kita menginginkan agar daerah-daerah lain itu juga seperti itu, punya keunggulan industri kreatif tersendiri karena tidak mungkin semua (jenis industri kreatif) bisa kita angkat,terangnya. Hingga saat ini, lanjut dia, beberapa daerah telah berhasil mengembangkan industri kreatif sesuai dengan kekhasan daerah itu. Bahkan ada yang lebih maju dari nasional, seperti Bandung, Solo, dan Yogya.Kalau (industri kreatif) Bali itu sebenarnya sudah lama (tumbuh),tapi selama ini memang tidak mencantumkan kata kreatif di sana, seperti halnya di Solo (Solo kreatif, Solo sejahtera), bebernya.
Ia menilai, tahap yang paling sulit dalam pengembangan industri kreatif adalah mengenai penciptaan apresiasi terhadap industri kreatif itu sendiri. Selama ini, pemerintah lebih banyak berperan dalam hal memfasilitasi dan memberikan dukungan berupa program dan pengalokasian anggaran. Sekarang ini semua departemen sudah mulai merancang action plan, tukasnya.
Menurut Mari Elka, terdapat lima hal penting yang memengaruhi keberhasilan pembangunan industri kreatif,yakni sumber daya manusia (SDM), anggaran, teknologi penunjang, kebijakan pemerintah, dan infrastruktur fisik. Kita itu beruntung karena sebenarnya memiliki banyak sumber industri kreatif. Mengembangkan industri kreatif harus tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional, imbuhnya.
Direktur Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Sri Hastanto mengungkapkan, budaya termasuk seni sepintas bertolak belakang dengan apa yang digambarkan wajah industri. Sebab, aspek industri lebih cenderung berorientasi pada uang. Sedangkan budaya lebih pada aspek upaya mengangkat harkat dan martabat manusia dan mempertahankan jati diri. Tapi, sebenarnya dalam kegiatan kebudayaan dan kesenian ada aspek ekonomi, ungkapnya.
Menurut dia, industri kreatif sebenarnya didasari dari konsep di luar budaya bangsa Indonesia, sehingga diperlukan kehati-hatian dalam menerapkannya. Dalam mengejar profit finansial, tidak sepantasnya mengorbankan harkat dan martabat kita sebagai bangsa. Pada poin inilah kreativitas Anda sangat diperlukan, terangnya. Panitia 5th IPAM 2009 sekaligus Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Debudpar) Tjetjep Suparman mengakui, potensi industri kreatif dari sektor seni pertunjukan sebenarnya sangat besar.
Apalagi, sekarang ini Indonesia memiliki beragam budaya daerah. IPAM merupakan salah satu upaya untuk mendorong bangkitnya salah satu sektor industri kreatif, ujarnya saat pembukaan 5th IPAM 2009 di Solo, Rabu (3/6) malam.
Sumber : www.seputar-indonesia.com




