10 Sentra Produksi Dirumuskan
Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar memaparkan, pemetaan wilayah produksi komoditasakan menjadiacuanbagipembangunan sentra-sentra komoditas di dalam negeri. Dia mengatakan, 10 sentra komoditas tersebut mengacu pada roadmap Kadin periode 2010-2014, yakni beras, jagung, kedelai, gula tebu, kelapa sawit, teh, kopi, kakao, udang, dan tuna.
“Pemetaan itu dari jaringan produksi, pengumpulan, pemasaran, dan ekspor dari komoditas strategis. Ini aktivitas yang harus diselesaikan tahun ini juga,” ungkapnya di Jakarta,kemarin. Dalam roadmap Kadin, target produksi beras pada 2010 sebesar 34,9 juta ton,jagung (16,5 juta ton), kedelai (1 juta ton), tebu (37,9 juta ton), minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) (23,6 juta ton), teh (154.000 ton), kopi (754.000 ton), dan perikanan (11,3 juta ton).
Dia mengatakan, pembuatan roadmaptersebut merupakan bagian dari tugas Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk menjaga jalur distribusi produk pangan strategis, sehingga menjamin ketersediaan dan harga komoditas yang terjangkau. “Untuk mengetahui persoalan seputar ketersediaan dan harga komoditi, maka perlu dibuat pemetaan yang mencakup produksi,distribusi dan pemasaran.
Pemetaan ini membantu pemerintah mengatasi hambatan kekurangan pangan di dalam negeri termasuk untuk komoditas ekspor,” tuturnya. Pihaknya mencontohkan, pelaksanaan operasi pasar (OP) karena kenaikan harga di bagian pengumpul kurang efektif karena jauh dari wilayah konsumen.“Kalau ada peta produksi, pengumpul, dan pemasaran,maka kebijakan untuk OP akan lebih efektif dan tepat sasaran,” ujarnya.
Ekonom Universitas Indonesia Nina Sapti Triaswati mengungkapkan, rumusan sentra produksi 10 komoditas strategis dan andalan ekspor sangat penting. “Tapi implementasi pemantauan dan ekspor lebih penting,” paparnya. Selama ini pengawasan terhadap keberhasilan pengembangan sentra produksi komoditas tidak jelas.
Rumusan pemetaan harus menitikberatkan pada suplai komoditas antara wilayah Barat dan Timur Indonesia. “Indikator penetapan sentra komoditas mengacu pada kemampuan produksi alam suatu wilayah,misalnya,jeruk Pontianak yang dihasilkan Provinsi Kalimantan Barat dan jeruk Probolinggo dari Jawa Timur,” ujarnya.
Dia menuturkan, penguatan sentra produksi komoditas harus diperkuat dengan jaringan pemasaran pertanian.“Dulu sempat ada tapi runtuh,”ungkapnya. Dia menambahkan, setiap sentra produksi komoditas akan saling menyuplai kebutuhan sentra produksi komoditas lainnya. Pola seperti ini, akan menciptakan biaya distribusi lebih murah antarsentra produksi. “Masing-masing pulau nanti menjadi swasembada komoditas yang diunggulkan,”ucapnya.
Swasembada Gula
Sementara itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Mustafa Abubakar memaparkan,guna mewujudkan swasembada gula, pihaknya akan menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan kementerian terkait. “Maka kita akan lakukan MoU swasembada gula antara BUMN, menteri kehutanan, menteri pertanian, menteri perdagangan, dan perindustrian.
Jadi mulai dari on farm hingga prosesnya, dan membangun pabrik gula,”ungkapnya di Jakarta kemarin. Dia menambahkan,akan membangun 15 pabrik gula hingga 2014. Kementerian Kehutanan juga sudah menyetujui pinjaman lahan seluas 500.000 hektare untuk perluasan lahan tebu.“Misalnya Jawa Timur,nanti juga akan kita cari lagi lahan yang cocok untuk penanaman,” ujarnya.
Ketua Badan Koordinasi Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Abdul Wahid menyambut baik rencana pembangunan pabrik ini.Namun,ditekankan olehnya perlunya sinergi antara pemerintah dan petani. “Membangun pabrik hal yang mudah, tetapi siapa yang perlu diperhatikan adalah on farm-nya,siapa yang mengarahkan para petani tebu,” paparnya. (Sandra Karina/Johana Purba). (//css)
Sumber : www.okezone.com



